Dua Waktu Yang Baik Dibulan Ramadhan

Ada dua waktu yang baik di bulan ramadhan, tapi sayangnya di Indonesia, dua waktu yang baik itu diisi dengan acara-acara televisi yang konyol.. Tidak mendidik, asal rame, tidak punya nilai ibadah, acara-acara sahur yang semakin tidak berkualitas. Acara-acara menjelang berbuka yang lebih banyak mengandung tawa yang berlebihan.

Dua waktu terbaik itu adalah :

1. PADA SAAT AKAN BERBUKA PUASA

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika saat berbuka ada doa yang tidak ditolak”.
(HR Ibnu Majah)

“Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah : Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dengan lafaz dari at-Tirmidzi)

Jamilah Kolocotronis Berusaha Murtadkan Muslim,Tapi Berujung Ia Menjadi Muslimah

Jamilah Kolocotronis, melalui jalan berliku untuk sampai menjadi seorang Muslim. Uniknya, ia mendapatkan hidayah dari Allah swt mengikrarkan dua kalimat syahadat, justru saat ia menempuh pendidikan demi mewujudukan cita-citanya menjadi seorang pendeta agama Kristen Lutheran yang dianutnya.

Kisah Jamilah berawal pada tahun 1976. Meski kuliah di sebuah universitas negeri, ia masih memendam keinginan untuk menjadi pendeta. Jamilah lalu mendatangi seorang pastor di sebuah gereja Lutheran dan menyampaikan keinginannya untuk membantu apa saja di gereja. Pastor itu kemudian meminta Jamilah untuk mewakilinya di acara piknik untuk para mahasiswa baru dari negara lain. Dalam acara ini, untuk pertamakalinya Jamilah bertemu dengan seorang Muslim.
Muslim itu bernama Abdul Mun’im dari Thailand. “Ia punya senyum yang manis dan sangat sopan. Saat kami berbincang-bincang, ia seringkali menyebut kata Allah,” kata Jamilah.

Rasulullah SAW Mengusir Mereka di Padang Mahsyar

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengisahkan:

Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam:

Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian.

Selanjutnya beliau bersabda: “Aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku.”
Mendengar ucapan ini, para shahabat keheranan, sehingga mereka bertanya, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?”

Sikap Ulama Islam Dahulu Terhadap Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah

Golongan Syi‘ah di zaman keagungan Islam ketika mana masyarakat Islam terdiri daripada ahli-ahli ilmu dan orang-orang soleh, tidak menyatakan belang mereka di hadapan umum. Mereka selalu melaksanakan syiar-syiar mereka secara tersembunyi secara taqiyah (nifaq). Selain dari itu golongan Syi‘ah juga menjaga kitab-kitab tulisan ulama-ulama mereka daripada terjelas kepada umum karena bimbangkan kemarahan dan kritikan terbuka dari ulama Islam terhadap mereka. Hakikat ini disebut oleh Syaikh Manzur Nu‘mani di dalam bukunya Revolusi Iran (Irani Inqilab, halaman 23):
“Kitab-kitab pokok Syi`ah tidak sampai ke tangan ulama-ulama Islam waktu itu. Para ulama Islam hanya mengetahui tentang Syi`ah melalui beberapa buah buku tulisan ulama Syi`ah yang terlepas ke tangan mereka atau melalui sikap sebagian kalangan Syi`ah pada masa itu.”

Ibnu Katsir: Mufasir yang Unggul di Bidang Hadist

Kitab tafsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim karya Syaikh Ibnu Katsir telah menjadi rujukan penting para pengkaji ilmu al-Qur’an hingga saat ini. Kekuatannya terletak pada penjelasannya yang dilengkapi dengan hadist-hadist dan riwayat-riwayat  yang masyhur. Ia sangat ketat menyeleksi riwayat-riwayat yang diragukan kesahihannya.

Metode memaparkan penjelasannya dengan   penafsiran al-Quran dengan al-Quran (tafsirul Qur’an bil Qur’an), penafsiran al-Quran dengan hadist (tafsirul Qur’an bil Hadits), dengan pendapat para ulama salaf yang saleh dari kalangan para sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat), dan dengan konsep-konsep bahasa Arab. Tafsirnya dikenal terbaik pada masanya.
Syaikh Ibnu Katsir adalah mufassir kenamaan yang lahir di negeri Syam. Nama aslinya Ismail bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi al-Syafi’i. ‘Katsir’ sebenarnya nama kakeknya bukan nama Ayahnya. Tapi ia terkenal dengan Ibnu Katsir, dinisbatkan kepada kakeknya. Dilahirkan pada tahun 701 H/1301 M di Bushro, sebuah daerah di wilayah negeri Syam.

Apakah Jin Juga Mengalami Kematian?

DUNIA jin yang ghaib tak pernah putus disukai oleh manusia. Satu pertanyaan yang menyeruak; apakah jin juga mati layaknya manusia?

Keterangan yang kita dapati dari beberapa riwayat menunjukkan bahwa jin itu seperti manusia, yaitu bisa meninggal juga. Perlu kita garis bawahi bahwa jin itu berbeda dengan iblis yang secara khusus telah diberikan ajal sampai kiamat tiba.

Ketika Allah SWT mengutuk iblis lantaran tidak taat kepada-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam as, iblis masih memohon untuk ditangguhkan masa hidupnya hingga akhir zaman. Permintaan terakhir itu pun dikabulkan Allah SWT.
Iblis menjawab, “Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan!”

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Sedangkan jin adalah jenis makhluk halus. Seperti halnya manusia, jin hidup
berkelompok-kelompok,

Mengapa Rasul Melarang Kita Makan & Minum Sambil Berdiri?

“Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata: “Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi,” (HR. Muslim dan Turmidzi). 
“Jangan kalian minum sambil berdiri! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan!” (HR. Muslim).

Islam sudah mengatur semua apapun kehidupan kita ini. Termasuk ketika makan dan minum.
Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: