Tafsir Positif Orang Beriman

Ilustrasi
(Al-Iqab) - Bismillahirrahmaanirrahim Tidak mudah memang, menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Secara manusiawi, Rasulullah saw juga merasakan kesedihan, saat dakwahnya ke Thaif di tolak oleh penduduk Thaif. Bahkan malaikat Jibril pun ikut "bersedih" dan "geram" terhadap penduduk Thaif, sehingga malaikat menawarkan bantuan kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, jika engkau perintahkan kami untuk mengangkat bukit Uhud dan melemparkannya untuk menghancurkan penduduk Thaif, sungguh akan kami lakukan." Tapi apa jawaban Rasul SAW yang mulia? "Tidak wahai Jibril, sesungguhnya saya diperintah bukan untuk menghancurkan mereka dan menghukum mereka, akan tetapi saya diperintah untuk mengajak mereka kepada keimanan. Maka kalaupun hari ini mereka belum mau beriman, semoga besok mau menerima, kalau besok juga belum, semoga minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan. Kalau pun sampai meninggal mereka belum mau beriman, semoga anak keturunan mereka mau beriman." Kemudian Rasul saw mendoakan mereka: "Allahumahdi Qaumie fainnahum laa ya'lamun." "Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, sesungguhnya mereka tidak/belum mengetahui." Sepuluh tahun kemudian, seluruh penduduk Thaif beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Saat pemerintahan Abu bakar terjadi gelombang murtad, tak satu pun penduduk Thaif yang murtad. Ada rasa sedih wajar, tapi kesedihan jangan sampai membuat kita kehilangan optimisme dan harapan. Kesedihan tidak membuat kita berputus asa dan lemah. Seruan dan dakwah yang belum disambut dengan baik oleh masyarakat, niat baik dan perjuangan untuk melayani masyarakat ternyata belum direspon dengan kebaikan, jangan pernah membuat kita lemah dan kehilangan asa, untuk terus menebar kebaikan dan memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi. Sepanjang semua langkah yang kita lakukan didasari dengan niat yang tulus, penuh kesadaran menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, dilandasi dengan semangat melayani masyarakat. Sungguh Rasulullah saw yang mulia, telah mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi kondisi yang membuat kita
sedih dan kecewa melalui pelajaran dakwah ke Thaif. Rasul yang mulia
juga telah mengajarkan kepada kita doa yang sangat indah, "Ya Allah,
kami berlindung kepada-Mu dari perasaan gelisah dan sedih, dari
kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dan tekanan
utang dan kesewenang- wenangan orang. Bagi orang beriman, apapun dan
yang takdirkan- Nya, selalu ada tafsir positifnya, selalu pandai
mengambil hikmah untuk kebaikan. Perhatikanlah, bagaimana Allah swt
menghibur orang orang beriman dalam kisah haditsul ifki yang menimpa
Aisyah RA, sebagaimana terungkap pada surat Annur ayat 11,
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu,
bahkan itu baik bagi kamu…. " Demikian juga yang Allah sampaikan dalam
surat Al Baqarah 216: "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
buruk bagi kamu, dan boleh jadi membenci sesuatu, padahal itu baik
bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Dalam
konteks pertandingan di dalam lapangan kehidupan, apapun bentuknya,
rumus ini harus kita ingat bahwa tidak semua yang kita inginkan dan
kita sangka menjadi kebaikan kita, itu di mata Allah adalah juga
demikian. Allah menegaskan, bahwa pengetahuan kita sangat terbatas,
dan hanya Allah swt saja yang Maha Mengetahui. Maka menghadapi segala
hal yang kita alami, baik suka ataupun duka, mari kita kembalikan
kepada Allah swt, Dzat yang maha mengetahui. Kesadaran semacam ini
akan membimbing jiwa kita untuk senantiasa optimis, menuntun langkah
kita untuk senantiasa bergerak beramal secara sinambung, membalut hati
kita dengan perasaan ithmi'nan, dan melatih lisan kita untuk
senantiasa tersenyum dengan semua kehendak Allah swt. Adalah sangat
menakjubkan orang beriman, manakala diberi kesuksesan, kebaikan,
kenikmatan dan kemenangan, ia akan bersyukur, dan manakala diuji
dengan kesusahan, kesulitan, kegagalan, kekalahan, maka ia akan
bersabar, dan hal yang demikian tidak terdapat pada seseorang kecuali
ada pada orang beriman. Adakah syukur pada diri kita? Adakah sabar
pada diri kita? Ini adalah salah satu cara untuk mengoreksi keimanan
kita kepada Allah swt. Imam Al Ghazali pernah mengatakan, bahwa
sesungguhnya Islam itu adalah syukur dan sabar. Keduanya terealisasi
dalam jiwa dan tindakan/ amal. ALLAH swt memberi kesempatan kepada
kita untuk beramal, peluang kebaikan selalu tersedia di depan mata,
adakah kita mampu sigap meraih dan menjemputnya, Jangan menjadi orang
yang kehilangan momentum, jangan menjadi orang yang menyesal karena
telah berlalu peluang. Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada
istri beliau Aisyah ra, "Wahai Aisyah, jagalah dirimu dari api neraka,
meskipun hanya dengan setengah butir kurma." Apa maknanya? Peluang
kebaikan sekecil apapun, jangan pernah kita sia- sia kan. Barangsiapa
beramal kebaikan seberat biji dzarrah, Allah akan membalasnya, dan
barangsiapa beramal keburukan, maka Allah akan membalasnya juga. Yuk
terus bergerak, meraih kemenangan hakiki. Wallahu a'lam bishawwab
(Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I)